09/16/2019
    4086 KALI DIBACA

    Ada “Feeling” Presiden Jokowi Dalam Kajian Ilmiah Tokoh Pendidikan Lampung

    Ada “Feeling” Presiden Jokowi Dalam Kajian Ilmiah Tokoh Pendidikan Lampung

    OPINI

    Oleh: Junaidi Ismail*)

    SUNGGUH luar biasa membicarakan sosok seorang guru dimata dunia, dimata orang-orang sukses, dimata orang-orang pandai, karena mereka pasti sepakat bahwa tak ada pahlawan yang lebih berjasa bagi mereka selain guru.

    Tema menarik untuk menghargai profesi pengajar dan tenaga kependidikan yang telah mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Melihat seorang guru bagaikan melihat sebuah masa depan cerah yang telah terpampang dan menjanjikan untuk dunia ini.

    Ingatkah kita ketika Negara Jepang pernah terpuruk dengan hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh serangan bom Amerika?

    Jepang saat itu lumpuh total, korban meninggal mencapai jutaan, bangunan gedung mewah hangus bagaikan padang pasir putih yang mengkilau di pinggir pantai tanpa halangan apapun, efek radiasi bom yang diperkirakan membutuhkan 50 tahun lamanya untuk menghilangkan semuanya.

    Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jenderalnya yang masih hidup dan menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?“

    Para jenderalnya pun bingung mendengar pertanyaan Kaisar Hirohito dan menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru.

    Namun, Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang, akan tetapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka?

    Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.”

    Cerita diatas mengajarkan dan dijadikan sebagai renungan kita bersama terutama para guru dan para penyelenggara negara, apakah guru-guru yang dimiliki bangsa ini merupakan guru-guru yang pantas dibanggakan sebagaimana guru-guru Jepang yang dibanggakan Kaisar Hirohito pada tahun 1945 silam? Oleh karena itu, guru perlu dihargai karya pengabdiannya.

    Di Indonesia, kebangkitan bangsa dari kemuliaan para guru itu telah tampak semenjak awal kemerdekaan seperti pada kiprah tokoh-tokoh yang tergabung dalam organisasi Budi Utomo atau tercermin pada sosok Ki Hajar Dewantara.

    Bahkan di era sekarang, ditengah kesibukan pemerintah untuk menentukan tempat strategis sebagai pusat pemerintahan negara pengganti DKI Jakarta, kebangkitan kaum intelektual itu muncul menyakinkan dengan potensi lebih besar lagi dibandingkan dengan sekedar kisah kebangkitan bangsa Jepang diatas.

    Keyakinan ini bermula dari dicetuskannya kembali wacana pemindahan pusat pemerintahan negara dari Jakarta ke kawasan lain di wilayah NKRI, oleh beberapa kepala negara yang sependapat dengan presiden Sukarno selaku penggagas awal pemindahan ibukota negara itu.

    Presiden Sukarno yang ketika itu sempat menyampaikan wacana,  bahwa pembangunan pusat pemerintahan negara pengganti DKI Jakarta adalah di pulau Kalimantan, wacana tersebut sempat dijadikan bahasan serius oleh para tokoh sentral republik saat itu.

    Tetapi nyatanya, hingga akhir hayatnya bung Karno tidak pernah merealisasikan wacana besar tersebut, bahkan terkesan ide pembangunan pusat pemerintahan negara di Kalimantan adalah sebuah kesalahan besar yang pernah dicetuskannya.

    Sebagai seorang insinyur yang ahli konstruksi, tentu bung Karno punya alasannya tersendiri, dan sebagai seorang kepala negara milik seluruh rakyat, dirinya sepertinya enggan dan merasa tidak perlu memberikan alasannya ke publik, seakan menyerahkan jawabannya kepada sang waktu.

    Tidak salah juga terkaan atas ‘jurus’ penyerahan jawaban bung Karno kepada waktu, dengan segala uraian penyebabnya diatas tadi. Kita ketahui bersama, saat ini, secara perlahan tapi pasti, satu persatu mulai terkuak penyebab mengapa bung Karno tidak gencar melakukan sosialisasi kepada rakyat untuk dijadikannya kawasan di pulau Kalimantan sebagai bahan rujukan utama untuk melakukan pembangunan pusat pemerintahan negara.

    Dan demi melihat kondisi Kalimantan terkini, maka bisa diduga alasan utama bung Karno Ialah tanah di kawasan Kalimantan yang di dominasi lahan gambut, sangat rentan kebakaran hutan dan lahan (kahutla) jika masif dieksplorasi sebagai lahan perkebunan, prediksi tersebut sekarang sudah terbukti.

    Apalagi jika lahan gambut tersebut dipergunakan sebagai lahan pembangunan ibu kota negara, sebuah mega proyek. Maka pelepasan energi akibat dari pembukaan lahan gambut  dimaksud menurut para ahli, juga rentan menjadi penyebab terhadap terjadinya pemanasan global yang memicu perubahan iklim dan aneka keganjilan siklus alam lainnya. Hanya itu saja indikasi penyebabnya tidak ada faktor yang lain, tetapi indikator penyebab tersebut sangat vital.

    Bagaikan simalakama bagi pemerintah, tidak dilanjutkannya dengan merealisasikan wacana pembangunan pusat pemerintahan negara di Kalimantan oleh bung Karno ketika itu, bukan berarti daerah khusus ibukota Jakarta telah terbebas dari segala dinamika persoalan rumitnya penataan ruang publik, serta dampak sosial yang menderanya sebagai sebuah ibukota negara.

    Setidaknya empat unsur alam di ibukota, ditenggarai para pakar sudah tidak kondusif sebagai pendukung bagi sebuah pusat pemerintahan. Layaknya pusat pembangunan peradaban dibutuhkan stabilitas air, api, tanah dan udaranya. Keempat unsur ini tidak lagi maksimal diperoleh dari bumi Jakarta, bahkan bertransformasi menjadi bencana.

    Banjir setiap tahun, kebakaran, polusi udara dan permukaan tanah yang semakin tahun semakin turun.

    Mungkin gerah juga dengan semua yang terjadi di DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan, beberapa kepala negara sesuai era kepemimpinannya memerintahkan kepada para pihak berkompeten untuk melakukan kajian kelaikkan dibeberapa daerah untuk kemudian akan di jadikan sebagai kandidat daerah khusus ibukota negara pengganti DKI Jakarta.

    Keresahan Ibu Pertiwi itu pun langsung dijawab oleh para tokoh masyarakat di beberapa daerah berpotensi dengan melakukan kajian ilmiah. Dan yang unik, kali ini ada daerah yang dalam melakukan kajian-kajian diinisiasi langsung oleh tokoh pendidikan setempat. Seperti di provinsi Lampung misalnya, pada 2007 para guru ikut melakukan kajian dengan membentuk Forum Grup Discussions Daerah Khusus Ibukota Lampung (FGD DKI Lampung).

    Mereka konsisten dengan hasil kajian ilmiahnya sampai saat ini, sementara dalam perjalanannya tidak sedikit yang menyangsikan keberhasilan para guru ini dalam menjaga kualitas kajiannya hingga dianggap laik dan terealisasikan ke dalam program nasional pembangunan pusat pemerintahan negara pengganti DKI Jakarta oleh pemerintah. Bisa dikatakan kajian tersebut hanyalah korban wacana cetusan Pemerintah semata, tidak jelas juga kapan perealisasiannya.

    Hingga tibalah siar kabar keberanian kepala negara kita yang sekarang, presiden Jokowi untuk memutuskan memindahkan ibukota negara dari Jakarta. Baru-baru ini.

    Keputusan presiden itu sontak disambut antusias oleh para tokoh masyarakat dari berbagai bidang yang dipelopori oleh para akademisi, maha guru hingga para rektor berbagai universitas dan perguruan tinggi, tenaga pendidik yang memilih mengabdi di Provinsi Lampung tadi.

    Mereka bahkan dengan penuh keyakinan dan semangat mengajukan langsung proposal hasil kajian ilmiahnya.

    Saya melihat kesungguhan dari para pengajar yang tergabung di dalam FGD DKI Lampung ini, dengan mengusung sendiri proposal kajian ilmiah susunan terbarunya, mereka mantap mengusulkan Provinsi Lampung sebagai daerah khusus ibukota negara pengganti Jakarta.

    Saya tidak akan lagi mengupas tentang se ilmiah apa hasil kajian mereka, sebab saya tidak menemukan satu hal pun yang meragukan kompetensi mereka.

    Sekedar informasi, di Lampung, secara umum kestabilan keempat unsur alamnya sangat mendukung (air, api, tanah dan udara) untuk sebuah pusat pemerintahan negara, selain juga jarak yang cukup dekat dengan Jakarta.

    Bagaimanapun, pusat pemerintahan negara yang baru tidak bisa jauh dari Jakarta karena selain sebagai pusat bisnis dan jasa serta historia perjalanan bangsa yang tersimpan didalamnya.

    Sebagai kandidat terpantas calon pusat pemerintahan negara, maka ketika pemerintah melakukan pelaksanaan pembangunan di Provinsi Lampung,  sudah tidak lagi dimulai dari nol.

    Semua akses transportasi sebagai pendukung seperti jalan tol dan bandara internasional sudah ada di Lampung.

    Pengelolaan sumber daya air nya juga sangat baik. Banyak Bendungan yang sudah dibangun dan bahkan ada yang masih dalam proses pengerjaan.

    Penting juga soal penggunaan bahasa keseharian di Lampung, cukup menjanjikan untuk kesuksesan perpindahan ibu kota, terutama di masa transisi. Sebagaimana diketahui, Masyarakat Lampung sehari-hari dalam interaksi sosialnya selalu menggunakan bahasa nasional.

    Bahkan, bahasa pasarannya menggunakan bahasa mirip dengan bahasa Betawi yang lazim digunakan sebagai bahasa pergaulan di Jakarta (elo/gua=Kamu/Saya).

    Digunakannya bahasa nasional di Lampung, sebagai bahasa dalam pergaulan sehari-hari bukan memaksakan penggunaan bahasa asli daerahnya, merupakan penerapan kearifan budaya lokalnya yakni salah satu palsafah hidup masyarakat Lampung piil pesenggiri, yakni nengah nyappur (ketengah dan bercampur/berbaur dengan semua bangsa).

    Hal ini, jelas sekali membuktikan bahwa mereka/masyarakat Lampung tidak akan kesulitan untuk menerima pendatang baru dari berbagai penjuru tanah air. Salah satu syarat penting bagi sebuah ibukota negara yang masyarakat nya majemuk seperti Indonesia.

    Kini setelah dukungan alam, sarana dan prasarana serta sumber daya manusianya pun sudah mumpuni dibeberapa daerah, termasuk Lampung, negara tinggal segera menentukan pilihannya. Perkembangan terakhir, Presiden Jokowi hanya sedang mencari feeling yang tepat dan tidak ingin memulai segalanya (Pembangunan DKI pengganti Jakarta) dari nol. Hal tersebut disampaikan oleh kepala negara saat melakukan kunjungan ke Kalimantan, beberapa waktu yang lalu.

    Kita dengan mudah bisa menebak, penentuan kebijakan tempat pembangunan DKI baru segera diputuskan kepala negara, setelah feeling yang dicari oleh presiden Jokowi ditemukan.

    Sebagai anak bangsa, saya bisa merasakan bahwa dalam kajian ilmiah mahakarya putra-putri bangsa, para akademisi pencetak SDM handal asal Lampung, yang secara swadaya menginisiatori langsung dan berada dibalik semua upaya yang tidak kenal lelah selama bertahun-tahun mempertahankan kajiannya, adalah nilai lebih dari harapan itu. Sebuah pengejawantahan integritas profesi bernapaskan nasionalisme dan patriotisme yang dipertontonkan secara elegan oleh para pendidik.

    Inikah “feeling” yang sedang dicari kepala negara? Sangat tepat, menurut saya.

    Sejarah kebangkitan bangsa Jepang dalam ulasan singkat pembuka tulisan 5, membuktikan jika kebesaran sebuah bangsa takkan pernah lahir dan takkan pernah siap untuk membangun peradaban tanpa campur tangan seorang pendidik.

    Dengan ketulusannya dalam mengajar, membimbing, melatih anak-anak bangsanya untuk menjadi teladan terbebas dari kebodohan, menuju sebuah keberhasilan. Mereka juga memiliki andil besar dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme disanubari murid-muridnya, nilai-nilai terluhur bagi kejayaan sebuah negara.

    Semoga, feeling, firasat/perasaan yang sedang dicari Presiden Jokowi adalah harapan yang sedang kita jemput bersama. Harapan atas tegaknya pusat pemerintahan negara kesatuan republik Indonesia yang tidak hanya monumental dalam upaya negara membangun peradaban bangsanya tetapi bersama campur tangan para ilmuwan di dalamnya, terdedikasi secara visioner sebagai cikal bakal pusat peradaban dunia.

    Karya besar anak bangsa itu, nantinya tidak hanya akan menceritakan kepada bangsa-bangsa generasi berikutnya di dunia tentang perkembangan pengetahuan tentang konstruksi terkininya, tetapi catatan peradaban, gambaran peradaban bangsa penghuni Republik Indonesia di abad ini, tentang siapa pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya. Sebagai warisan berisikan kisah kebesaran bangsa yang berkualitas dan bermartabat, warisan Ibu Pertiwi yang tidak dapat tergantikan.

    Dari semua alasan yang diajukan melalui kajian oleh para kandidat beberapa daerah di Indonesia dan tanggapan para ahli yang mengikutinya yang saya serap dari berbagai sumber, maka menurut saya warisan bangsa besar yang bersepakat bersatu di dalam NKRI itu sangat laik meng-Agung di Kawasan Timur Lampung.

    Alasan terpenuhinya harapan mulia tersebut menurut saya sangat mendasar, yakni hasil kajian mendalam tak terbantahkan oleh para ahli (Akademisi/guru) sesuai keilmuannya, sebagai buah karya pengabdian.

    Serta keterlibatan langsung para tokoh pendidikan di Lampung dalam prosesnya, merupakan awal yang baik karena murni inisiatif kaum pendidik dan tidak ada unsur kepentingan politik tertentu yang menyertainya.

    Sumbangsih para inisiator intelektual tanpa tunggangan kepentingan ini, bisa langsung menjadi penopang kebijakan pemerintah pusat.

    Ya, selain momentum tepat bagi kita (rakyat dan pemerintah/penegak NKRI) untuk mengadopsi hasil pemikiran kaum pengajar yang dicurahkan ke dalam kajian ilmiahnya, memang sudah saatnya jua kita memberikan kepercayaan penuh kepada mereka, para pendidik di negeri ini. Bahwa, sekarang mereka adalah guru Indonesia sesungguhnya. Guru, yang benar-benar dihormati karena karya pengabdiannya. (*)

    *) Wartawan Utama

    Owner Mediafaktanews.com

    banner 468x60