2146 KALI DIBACA

Makna Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT, Satu Gerbong dan Satu Tujuan Membangun Bangsa

Makna Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT, Satu Gerbong dan Satu Tujuan Membangun Bangsa

Oleh: Abdullah Umar*)

SATU hari sebelum Presiden Jokowi menyampaikan pidato visi politiknya sebagai Presiden Terpilih 2019-2024 di Sentul esok hari (Minggu, 14 Juli 2019), JKW memberikan kejutan dengan bertemu dengan rivalnya pada Pilpres 2019, Prabowo Subianto. Proses Rekonsiliasi pun benar-benar terwujud hari ini.

Lantas apa makna simbol pertemuan mereka berdua di MRT? Kita tahu Presiden Jokowi adalah pemimpin Jawa yang sangat menyukai simbol-simbol politik untuk menyampaikan pesan ke masyarakat luas.

Bukan Di Istana, Tapi di Transportasi Rakyat. Banyak pihak termasuk media terus menerus menebar wacana, pertemuan JKW-Prabowo hanyalah proses bagi-bagi kursi kekuasaan (kursi menteri). Jika bertemu di istana, sebagai perlambang pusat kekuasaan, wacana itu tentu bisa semakin dahsyat.

Namun kini mereka bertemu di MRT. Transportasi rakyat yang kini menjadi primadona rakyat karena murah dan efisien. Jokowi seolah ingin berpesan pertemuannya dengan Prabowo semata-mata hanya untuk rakyat, di mana semua rakyat akan bisa merasakan dampak pertemuan mereka berdua, dampak bersatunya dua kekuatan politik yang berbeda selama ini.

Satu Gerbong, Satu Rel, Satu Tujuan, Pertanda Koalisi?
Berada dalam satu gerbong dan satu tujuan (Dari Lebak Bulus ke Senayan) kedua tokoh Jokowi dan Prabowo berbincang dengan hangat dan gembira, seolah tidak ada lagi persaingan di antara mereka berdua yang seolah sangat panas selama 10 bulan masa kampanye Pilpres 2019.

Simbol itu dapat dimaknai kedua pihak sudah sepakat untuk berjalan di atas rel yang sama, yaitu menuju kemajuan Indonesia. Berada dalam satu gerbong, pertanda Partai Gerindra akan bergabung di pemerintahan Jokowi?

Sangat mungkin, toh Jokowi selalu menyebut Prabowo sahabatnya sejak lama. Ingat, Pilkada DKI 2012? Bagaimana Prabowo sangat mengendorse Jokowi saat itu?

Benar para pengamat politik menyampaikan, ”maknai politik sewajarnya saja sebagai proses memilih pemimpin bangsa. Tidak perlu merasa memilih capres tertentu sebagai tiket masuk surga, seperti yang banyak dikampanyekan selama Pilpres 2019”

Apapun itu, rekonsiliasi sudah lunas dilakukan kedua belah pihak. Tentu saja Presiden Jokowi dapat berpidato dengan lantang menyebut persatuan Indonesia esok hari sebagai presiden terpilih 2019-2024.

Pendukung kedua capres? Ada baiknya kita turuti pesan Presiden Jokowi ”Semuanya merah putih. Tidak ada lagi yang namanya 01, tidak ada lagi yang namanya 02. Yang ada adalah Garuda Pancasila”. (*)

*)Mahasiswa S2 Indonesia di Fak. Hukum University of Cairo, Mesir