Home / Berita Utama / Seniman-Budayawan Lar Gangsir Dukung ‘Kearifan Lokal Solusi Global’
Kelompok Pencinta Keris dan Pusaka Tosan Aji, Komunitas Lar Gangsir- Bantul, Yogyakarta. (Foto: Bambang Sby)

Seniman-Budayawan Lar Gangsir Dukung ‘Kearifan Lokal Solusi Global’

YOGYAKARTA – Pengalaman berkeliling Kota mengunjungi komunitas pecinta keris dan pusaka warisan leluhur di Bantul yang dilakukan Wartawan RMOL Lampung, Bambang Suroboyo atau yang lebih dikenal sebagai Mas Bambang SBY di Yogyakarta pada akhir Desember 2019, cukup mengesankan bagi pelukis kopi kebanggaan Indonesia tersebut. Hal tersebut seperti tertuang dalam laporan tertulis ke Redaksi Mediafaktanews.com pada Rabu, (25/12). Laporan perjalanan Bambang Suroboyo selama di Yogyakarta itu berisi pandangannya tentang Keistimewaan Kota Yogyakarta dan penilaian positifnya sebagai seorang seniman terhadap tema ‘Kearifan Lokal Solusi Global’ yang diangkat pada KNH 2020 Yogyakarta.

Di mata Bambang, selain istimewa karena pernah menjadi daerah khusus ibukota negara, masih banyak lagi keistimewaan Yogyakarta lainnya diantaranya yaitu, dikenal sebagai Kota pendidikan, Kota parwisata, juga sebagai kota pusat peradaban dengan berbagai komunitas masyarakatnya yang tetap konsisten merawat, melestarikan koleksi bernilai sejarah untuk tetap bermanfaat bagi perkembangan peradaban modern sebagai bangsa yang memiliki karakter yang kuat dan beradab. Semua keistimewaan Daerah ini semakin lengkap dengan aparatur pemangku kebijakan ber- SDM handal. Produk dan penegakan perda DIY ditenggarai paling berhasil se-RI.

Sebagai seorang seniman, tidak berlebihan jika Bambang sangat mendukung diusungnya Kearifan Lokal, sebagai Solusi Global. Dalam pandangannya, Nilai-nilai filosofis dari benda pusaka yang terus menerus dituturkan secara turun temurun dan sanksi sosial terhadap pelanggarannya tetap relevan di setiap zaman, maka dengan sendirinya karya seni budaya tersebut telah menjadi kearifan lokal.

Dirinya menilai, jika solusi global dari penggalian nilai-nilai dari beragam budaya, merupakan langkah bijak bagi Bangsa Indonesia untuk memiliki kesadaran akan kekuatan kearifan karya nenek moyang.

Kelompok Pencinta Keris dan Pusaka Tosan Aji, Komunitas Lar Gangsir- Bantul, Yogyakarta. (Foto: Bambang Sby)

Didorong oleh hal ini lah yang meringankan kaki Pendiri “Tabloid Pendidikan” di Lampung ini, pada Selasa, (24/12) mengunjungi markas Kelompok Pencinta Keris dan Pusaka Tosan Aji, Komunitas Lar Gangsir di rumah Timbul Waluyo, S.Sn. rekan Bambang sesama Seniman/Budayawan (Pelukis/Pematung), di Sembungan RT 01 No. 16 Bangunjiwo Kasihan, Bantul DIY. (55184).

Secara tersirat, Wakil Ketua Dewan Kesenian Lampung (DKL) itu begitu menikmati suasana yang dikesankan Timbul Waluyo saat memamerkan beraneka ragam koleksi keris pusaka dihadapkannya.

“Dengan sambutan ramah dan hangat, khas Ngayogyakartan,” tulis Bambang,

Mas Timbul menunjukkan koleksi keris pusakanya yang beraneka ragam, cerita Bambang lebih lanjut, antara lain yakni, Keris Jalak Kabudhan dibuat pada zaman Mataram Hindu (Abad Ke-8), Keris Pasopati Era (Tangguh) Paku Buwana VIII.

“Kemudian Keris Luk 13 Karawelang Sumedang, berikutnya Keris Luk 9 Sempana Tangguh Blambangan yang wasilahnya untuk menaikkan derajat atau pangkat dan masih banyak lagi koleksinya, yang memiliki bentuk dan pamor yang berbeda,” kenang dia.

Setelah koleksi terakhirnya dipamer-jelaskan kepada Bambang hari itu, Timbul berjanji akan lebih memuaskan dengan mengenalkan kepada seluruh anggota yang juga para pemilik berbagai koleksi pusaka di komunitasnya, pada keesokannya.

“Untuk lebih jelasnya dan biar puas Mas, besok saya mengundang seluruh anggota Komunitas Lar Gangsir, biar kenal dengan seluruh anggota kami,” ujar Timbul, yang ditepatinya pada keesokkan harinya.

Besoknya, Bambang SBY bersama temannya (seorang kurator seni rupa), Jajang R. Kawentar telah berkumpul bersama Anggota Lar Gangsir, lengkap bersama Ketuanya Nilo Suseno, S.Si., M.Si.

“Hadir pada keesokan harinya, kami bersama teman kurator seni rupa Jajang R. Kawentar dapat berkumpul bersama Anggota Lar Gangsir lengkap bersama Ketuanya Nilo Suseno, S.Si., M.Si. Mereka yang hadir diantaranya, yaitu Drs. Bagus Kurniawan (Media), Drs. Hedi Hariyanto (Humas /Pematung), Drs. Anusapati, MFA. (Pematung, mantan Purek ISI Yogyakarta), Tukirno B. Sutejo, S.Sn. (Pematung), Ir. Sukaryono (Litbang), Leo Resi Brahmono, S.IP. (Administrasi RS dan Abdi dalem kraton Jogja), Timbul Waluyo, S.Sn. (Pematung /Pelukis), Jajang R Kawentar, S.Sn. (Kurator /Pelukis), dan Andi Sempono (Pemandu Pariwisata),” rinci dia.

Masih menurut Bambang, Kehadiran mereka, lengkap membawa koleksi keris andalannya masing-masing. Dalam kesempatan berbincang mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan satu persatu koleksi pusaka kerisnya.

Pada kesempatan yang sama Nilo Suseno menjelaskan alasan mengapa Keris yang merupakan warisan budaya adiluhung Indonesia, perlu dilestarikan.

“Keris merupakan warisan budaya adiluhung Indonesia yang perlu dilestarikan. Selain sebagai produk karya seni tempa logam yang bernilai estetis tinggi, keris juga mempunyai nilai-nilai tak-benda (intangible heritage) dan filosofi yang tinggi. Keris mengandung banyak nilai-nilai yang penting seperti nilai sejarah, arkeologi, pendidikan, spiritual, sosiologi, ekonomi, iptek, dan lain-lain. Oleh karena itu apresiasi dan pelestarian keris perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan,” jelas Nilo.

Sungguh sebuah peristiwa yang sangat luar biasa bagi kami tamu dari luar daerah (Lampung) disambut dengan penuh keramahan dan apresiatif. Yogyakarta memang gudangnya seniman dan budayawan, kenang Bambang.

Ditambahkannya, pertemuan jadi semakin gayeng ketika mereka ngobrol tentang keistimewaan keris masing-masing sambil menikmati wedang kopi dan penganan khas Yogyakarta.

Diujung pertemuan, Nilo Suseno mengajak Bambang untuk berkunjung ke besalen (tempat penempaan keris) Ki Empu Sungkowo Harumbrojo di Desa Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman Yogyakarta. Untuk melihat pembuatan keris mulai dari proses awal sampai jadi keris pusaka.

“Mas Bambang kalau mau menyaksikan prosesi pembuatan keris dari awal sampai jadi pusaka, besok saya antarkan ke tempat Seni Tempa Pamor di Sleman,” ajak Nilo. Ajakan Nilo langsung di jawab “Yesss!”, oleh  Bambang SBY dengan penuh Semangat.

Sebelumnya diketahui, bahwa keberadaan awal Bambang SBY di Yogyakarta adalah selaku utusan DPC PERHUMAS Lampung, dalam rangka menghadiri undangan Konvensi Nasional Humas (KNH 2020) Yogyakarta. KNH 2020 digelar dengan mengangkat Tema “Kearifan Lokal Solusi Global”. Sebuah pilihan tema yang menyentuh tujuan tertinggi para seniman dalam berkarya.

Sadar sedang berada di tempat dan waktu yang tepat untuk menindaklanjuti hasil Konvensi Kehumasan Nasional di Daerah Istimewa tersebut. Sebab itu pula, setelah acara KNH rampung, Bambang memilih untuk tidak langsung pulang ke Lampung, namun langsung menindaklanjuti hasil KNH 2020 Yogyakarta, yakni dengan mengunjungi Kelompok Pencinta Keris dan Pusaka Tosan Aji, Komunitas Lar Gangsir di Kawasan Pelestarian Kebudayaan.[*]

Sekilas Tentang Komunitas Lar Gangsir

Lar Gangsir adalah sebuah Komunitas Tosan Aji yang didirikan di Yogyakarta, dimotori oleh para alumnus dan dosen ISI Yogyakarta, merupakan wadah yang memberikan edukasi ke masyarakat umum untuk lebih mengenal dan ikut melestarikan salah satu budaya yang Adi Luhung dan juga membentuk regenerasi berikutnya.

Komunitas Keris Lar Gangsir Yogyakarta dibentuk untuk mendukung upaya pelestarian dan pengembangan budaya keris dan tosan aji pada umumnya. Komunitas Keris Lar Gangsir didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Juni 2019. Dengan tujuan melestarikan karya budaya keris dan tosan aji kepada masyarakat umum, khususnya generasi muda untuk:

– Meningkatkan pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap keris.
– Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi keris
– Mengembangkan budaya perkerisan melalui penciptaan karya baru
– Meningkatkan dan mengembangkan aspek ekonomi dan kewirausahaan di bidang keris dan tosan aji

Nama ‘Lar Gangsir’ merupakan kependekan dari sengkalan ‘Laring Curiga Manjing Sarira’ yang merupakan candra sengkala tahun 1952 Jawa ( 2019 M) yang merupakan tahun berdirinya organisasi ini. Laring Curiga Manjing Sarira artinya penyatuan antara keris dengan manusia.

Lar Gangsir juga merupakan salah satu nama pamor keris yang indah dan populer. Motif pamor Lar Gangsir merupakan stilasi organ sayap serangga gangsir (sejenis jangkrik), dimana sayap tersebut berfungsi ganda, untuk terbang dan bersuara. Sehingga Lar Gangsir mengandung perlambang kemampuan untuk mencapai cita-cita dan tujuan yang tinggi, serta mampu berkiprah dan berkontribusi penting dalam usaha pelestarian dan pengembangan budaya keris di Indonesia.

Melestarikan budaya merupakan cara menjaga kekuatan identitas diri dengan karakter yang kuat.(*)

About Redaksimediafaktanews

Check Also

Terus Bergerak, TEC Optimis Dapat Rekom PKS

LAMPUNG – Bakal Calon Bupati Lampung Selatan H. Tony Eka Candra optimis Partai Keadilan Sejahtera …