Home / Berita Utama / Direktorat Kesenian Riwayatmu Kini

Direktorat Kesenian Riwayatmu Kini

BANDARLAMPUNG – Hilangnya Direktorat Kesenian pada Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI, menjadi kekecewaan dan keprihatinan para seniman Indonesia.

Betapa tidak, seni merupakan sebuah peradaban yang paling Adi Luhung, bahkan Kebudayaan kita di bidang seni telah diakui kemasyhurannya oleh masyarakat dunia dan sudah sejak dulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi
yang menawarkan ajaran-ajaran luhur tentang tata kehidupan berkesenian, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adikarya ini menjadi produk-produk budaya Indonesia yang penuh muatan lokal dan telah mendunia, tiba-tiba pada era Pemerintahan sekarang mulai dipenggal dan dihilangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Peraturan Presiden RI No 82 tahun 2019 pada Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Susunan struktur organisasi pada Ditjen Kebudayaan yang tadinya berdasarkan Perpres RI No 72 tahun 2019 terdapat Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Kepercayaan, terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kesenian, Direktorat Sejarah, Direktorat Warisan; dan Diplomasi, Budaya.

Namun kini dirubah menjadi: Lima Direktorat yaitu: Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Perfilman Musik dan Media Baru, Direktorat Perlindungan Kebudayaan, Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Tenaga dan Pembinaan Lembaga Kebudayaan.

Dimanakah Direktorat Kesenian? Kenapa dihilangkan? Apakah Bangsa ini tidak ada Seniman dan pekerja seni? Apakah di Negara ini tidak ada kesenian?

Beberapa pertanyaan ini membuncahkan pikiran seniman dan pekerja seni di Indonesia, sebagian kecil memang ada seniman yang independen, tapi lebih banyak jumlahnya seniman di Indonesia yang masih berlindung dan mengharapkan kebijakan Pemerintah melalui Lembaga ini.

Sepertinya kinerja Dirjend yang lama dan yang baru terputus tidak ada kesinambungan, atau tidak berani mengingatkan karena ABS (Asal Bapak Senang), takut bicara, takut di nonjobkan dsb.

Perlu disadari bahwa Kesenian dan kebudayaan kita telah diakui kemasyhurannya oleh masyarakat dunia. Sudah sejak dulu kiranya bangsa kita sudah dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi.

Kebudayaan yang dimaksud disini tidak sebatas pada rutinitas seremonial belaka, akan-tetapi lebih jauh lagi ke tingkah-laku kehidupan sehari-hari.

Kebudayaan Nenek Moyang kita terkenal Adi Luhung Bangsa Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia, atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Masing-masing suku-suku di Indonesia memiliki ciri khas budaya yang tidak dimiliki oleh suku lain, keragaman budaya itu adalah bentuk keberagaman kearifan lokal yang menawarkan ajaran-ajaran luhur tentang tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Berbasis kesenian. Itulah kekayaan intelektual Bangsa kita. Bangsa kita bukan bangsa kaleng-kaleng, bukan bangsa abal-abal.

Seni adalah unsur-unsur dari kebudayaan suatu bangsa atau masyarakat yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan pendidikan yang halus, maju, indah, seperti karya seni (lukisan, patung, kriya dll), ilmu pengetahuan, adat, sopan santun pergaulan, kearifan, kepandaian menulis, mencipta, membentuk karakter manusia, organisasi kenegaraan dsb.

​Direktorat Kesenian adalah induk dari Perfilman Musik dan Media baru, ketiganya bagian dari kesenian kenapa bisa jadi direktorat tersendiri mengalahkan induknya?

Secara logika apakah bisa karya film yang baik akan lahir tanpa memahami kesenian yang mendasari, apakah bisa karya dengan media baru dapat menghasilkan karya yang bermutu baik kalau tidak memahami estetika kesenian.

Apakah cukup dari film saja dapat memajukan sebuah bangsa tanpa dasar pengetahuan seni, apakah bisa sebuah bangsa bisa beradab tanpa memahami kesenian.

Hal ini perlu dipikirkan dengan kearifan yang matang, untuk kemajuan budaya jangan hanya mengandalkan Artificial Intelligence (AI) intelegensi artifisial (kecerdasan buatan).

Karya seni yang baik dan bermanfaat adalah karya yang memiliki estetika, yang memiliki jiwa, dihasilkan melalui pencapaian skill dan penghayatan yang tinggi bukan dengan cara yang praktis dan aplikatif dalam kehidupan kita.

Film yang baik secara kualitas dan pengemasannya, bisa tersampaikan kepada penontonnya, tidak lepas dari bentuk karya seni, membawa pesan dan proses komunikasi.

Di dalam setiap penggarapan film hasil karya seni menjadi penting untuk diperhatikan. Film merupakan sebuah karya seni yang mampu mempengaruhi pola pikir dan perilaku penikmatnya secara masal. Kembali lagi unsur kesenian yang paling penting dibutuhkan dalam pembuatan film.

Seni media baru adalah sebuah istilah yang merujuk kepada karya seni yang dibuat menggunakan teknologi dan aplikasi, karya yang dihasilkan oleh mesin dengan estetika montase, memang hasilnya cepat dan praktis, tapi tidak berkarakter dan menstimulasi otak orang untuk jadi robot ngak punya tought
Orang jadi cerdas tapi aplikasi dan artificial.

Seni media baru bisa dikategorikan sebagai seni kontemporer dan termasuk ke dalam gerakan seni Pascamodernisme atau Avant-garde bila ditinjau berdasarkan dari kronologi kemunculannya dan teknologi media baru sebagai bentuk medium yang digunakan.

Seni media baru sendiri bentuknya cenderung hiperteks dan bersifat multimedia. Termasuk di antaranya adalah seni digital, grafika komputer, animasi komputer, seni virtual, seni interaktif, permainan video, dan percetakan 3 dimensi.

Seni media baru sendiri sudah mulai menjadi istilah yang lazim dalam dunia seni itu sendiri. Lembaga pendidikan seni pun sudah mengakui bahkan membuka jurusan khusus untuk seni yang menerapkan “Media Baru” sebagai mediumnya.

Hampir semua seni media baru melibatkan penggunaan komputer sebagai mediumnya. Namun pada dasarnya, seni media baru adalah pencapaian karya seni dengan menggunakan teknologi elektronika digital untuk menyampaikan sebuah karya seni.

Untuk pencapaian karya masterpiece apakah bisa dicapai tanpa pemahaman Estetika Kesenian yang mendasar dan berkarakter kuat.

Dampak negatifnya Media Baru juga harus dipertimbangkan dari sisi pendidikan yaitu terjadinya perubahan nilai, norma, aturan, atau moral kehidupan yang bertentangan dengan nilai, norma, aturan, dan moral kehidupan yang dianut masyarakat. Dalam hal ini Pendidikan Kesenian lah yang paling ampuh untuk memfilternya.

Kesenian Sebagai Pembentuk Peradaban Manusia, secara harfiah, peradaban berasal dari kata dasar adab yang berarti akhlak, kesopanan atau kehalusan berbudi pekerti. Dan manusia yang tidak mempunyai adab berarti disebut sebagai manusia [email protected]

Semoga dengan kebijakan Kemendikbud ini tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Tabik Pun. [Pelukis Bambang SBY/Kabid 3 Dewan Kesenian Lampung (bidang Seni rupa, Sastra dan Film). (Rls/Red)

Mediafaktanews

About Redaksimediafaktanews

Check Also

LSI Denny JA: Kecemasan Publik di Zona Merah! Tujuh Rekomendasi

JAKARTA – Hindari spirit SCSD (Setelah Covid-19 Selesai Dulu), baru bergerak. Justru sejak masa New …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.