Kamis , Oktober 28 2021
Home / Berita Utama / Iwan Nurdaya-Djafar: Di Lampung Musim Pagebluk Menjelma Jadi Musim Panen Kesenian

Iwan Nurdaya-Djafar: Di Lampung Musim Pagebluk Menjelma Jadi Musim Panen Kesenian

BANDARLAMPUNG, (FN) – Budayawan Lampung Iwan Nurdaya-Djafar dalam Pidato Kebudayaan bertajuk : “Berkesenian di Musim Pagebluk” yang disampaikan di Pertunjukkan Gedung Dewan Kesenian Lampung, Komplek PKOR, Wayhalim, Bandarlampung, Sabtu (18/09) menyoroti fenomena, aktivitas dan siasat seniman tetap berkarya di musim pandemi Covid – 19.

Dalam helat yang ditaja Akademi Lampung ini menyatakan merasa prihatin dengan banyaknya korban meninggal, , diantaranya para seniman. “Selalu ada rasa kehilangan yang lebih, manakala kita mendengar seorang seniman wafat. Seniman adalah sosok yang tak tergantikan,” ujar Iwan prihatin.

Dicontohkannya, tidak akan pernah ada lagi drama “Romeo and Juliet” seperti yang dihasilkan oleh William Shakespeare. Hal ini, justru karena sifat subyektif seniman yang melekat pada karya tersebut.

Sekretaris Akademi Lampung, lebih lanjut menegaskan, seorang seniman kreatif yang wafat memang membawa mati kepiawaian seninya, tetapi mestilah meninggalkan warisan berupa karya ciptanya. Maka, meskipun sang seniman sudah berpulang, kita dapat terus mengapresiasi karya-karya yang diwariskannya. “Kepada para seniman yang telah mendahului kita, kita doakan agar berakhir baik dan beroleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Ars longa vita brevis; seni itu abadi, hidup itu singkat, “” ujar Iwan berempati.

Era Disrupsi dan Panggung Digital

Iwan yang dikenal sebagai penulis buku dan penerjemah karya-karya sastra dunia ini mengatakan, jika diperhatikan, kegiatan berkesenian di musim pagebluk ini, banyak memanfaatkan media virtual.

Hal ini menandai terjadinya pergeseran fenomena dari aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya. Fenomena ini disebut disrupsi atau perubahan besar yang mengubah tatanan, seperti ditandaskan Clayton M. Chisthensen dalam bukunya The Inovator Dilemma yang terbit pada 1997. Disrupsi membawa konsekuensi pada cara dan pendekatan baru, karena khalayak dan lanskap yang berubah baik di bidang komunikasi, bisnis, dan lainnya.

Iwan juga menegaskan, seniman adalah salah satu yang paling terdampak oleh gempuran pagebluk covid 19. Dan oleh karena itu, seniman ditantang untuk menciptakan karya seni dalam konteks kreasi baru.

Seniman yang kehilangan panggung atau wadah kegiatan karena pagebluk, dengan dukungan tekonologi digital memindahkan tempat pentasnya ke panggung digital, melalui fitur live streaming dengan aplikasi Zoom, Instagram, Facebook, Youtube dan lainnya.

“Di era disrupsi ini justru para seniman mempunyai panggung virtual yang bisa dinikmati oleh khalayak di seluruh pelosok dunia. Di era disrupsi, dengan panggung digital seniman yang kreatif akan makin mendunia, ” terang.

Yang menggembirakan, lanjut Iwan , para seniman dan lembaga-lembaga kesenian di Lampung tetap berkiprah pada musim pagebluk Covid 19. Dengan sikap kreatif mereka, para terus berkreativitas dan berkarya.

Berbagai peristiwa kesenian, sebut Iwan Nurdaya, antara lain; safarti kebudayaan Akademi Lampung ke kabupaten/kota, penerbitan buku Lampung Tempo Doeloe dan buku senirupa Sketsa dan Lukisan Anshori Djausal, Komite Tari menaja festival tari virtual, Komite Musik menggelar lomba cipta lagu nasional, Komite Sastra melaksanakan sayembara penulisan esai dan puisi berbahasa Lampung, komite tradisi mendokumentasikan warahan, dan Komite Film mem produksi film pendek ”Movie Lab 2021.

Sementara itu, Kantor Bahasa Provinsi Lampung pada masa pagebluk ini menerbitkan 18 karya sastra Lampung klasik , juga melakukan kegiatan digitalisasi manuskrip hahiwang yang tertulis di atas daun lontar koleksi Mamak Lawok di Krui yang sudah berumur lima generasi atau sekitar 150 tahun.

“Ini salah satu bukti bahwa sastra Lampung klasik adalah sastra tulis, alih-alih sastra lisan. Lampung memiliki aksara ka-ga-nga yang disebut Had Lappung, yang sebenarnya merupakan kepemilikian bersama dengan orang Bengkulu dan Sumatra Selatan. Orang Sumatra Selatan menyebutnya Surat Ulu atau Surat Ugan,” tandas Iwan.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, papar Iwan menyelenggarakan kegiatan pembinaan kesenian tradisional lintas mayarakat kabupaten/kota dan pembuatan film dokumenter di 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung. Kegiatan yang berlangsung dari Januari sampai Juli 2021 itu menetapkan sasaran pada 19 warisan budaya tak-benda yang telah tersertifikasi naional.

“Terbukti bahwa para seniman dan lembaga-lembaga kesenian di Lampung tetap berkiprah pada musim pagebluk Covid 19. Dengan sikap kreatif mereka, para seniman menolak untuk berdiam diri, mereka terus mencipta dan berkesenian di musim pagebluk ini. Maka, musim pagebluk menjelma semacam musim panen kesenian di tangan para seniman Lampung,” tandas Iwan.

Mediafaktanews
Baca Artikel Menarik di LV

About Redaksi

Check Also

Tanggamus Jadi Ikon Lampung Craft 2021

BANDARLAMPUNG, (FN) – Gubernur Lampung Arinal Djunaidi dan Ketua Dekranasda Provinsi Lampung Ibu Riana Sari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.